Sabtu, 28 Agustus 2010

INFORMASI PERSIAPAN TEMPAT DAN KONSUMSI KONSULAT CILACAP KEBUMEN TAHUN 2010/2011


INFORMASI PERSIAPAN TEMPAT DAN KONSUMSI
KONSULAT CILACAP KEBUMEN
 TAHUN 2010/2011

Alhamdulillahirabbil ’alamin washalatu wassalamu ‘ala Rasulillah wa’ala alihi wa shahbih waman tabi’ahum bi ihsanin ila yaumiddin.
Acara Konsulat tahun ini merupakan konsulat yang bisa dikata “Special”, pasalnya kalau tahun-tahun lalu konsulat Cilacap dan Konsulat Kebumen mengadakan acara konsulatnya di masing-masing kabupaten, maka tahun ini, kami dari panitia sengaja menggabungkannya  karena menimbang jumlah anggota yang minim, kemudian kesamaan wilayah secara geografi yang letaknya di pesisir pantai selatan.
1.       Segala puji hanya bagi Allah tabaraka wata’ala, atas limpahan nikmatnya sehingga pada hari Ahad tanggal, 8 Agustus 2010,  kami dari panitia kegiatan konsulat bisa mengadakan survey (tinjauan langsung) berkaitan dengan lokasi yang direncanakan akan digunakan sebagai tempat diselenggarakannya  konsulat Kebumen dan Cilacap.




Gb. Lokawisata Benteng Pendem ( Komplek Teluk Penyu Cilacap, Jawa Tengah)
Setelah kami berdialog dengan beberapa guide lokawisata Benteng Pendem dan Teluk penyu, maka kami informasikan kepada seluruh anggota berupa rincian penggunaan uang konsulat sebagai berikut :
karena kita menginginkan kelancaran dan kenyamanan jalannya acara konsulat kita ini, maka  Alhamdulillah kami dari panitia telah menyewa sebuah Pendopo yang berada di dalam lokawisata Benteng pendem dengan biaya Rp. 30.000,- yang akan digunakan sebagai biaya kebersihan oleh pihak pengelola.
Sehingga melalui hasil survey panitia ini, semua pembiayaan yang berkaitan dengan harga tiket masuk kedua Lokawisata Benteng Pendem dan biaya sewa tempat akan ditanggung oleh Panitia dengan mengambil dari kas bendahara Konsulat.
2.       Selanjutnya, yang tidak kalah penting adalah masalah pembiayaan Konsumsi , kami dari panitia menginginkan kemudahan dan kenyamanan bagi seluruh anggota konsulat  dan dengan belajar dari pengalaman yang telah lalu seperti halnya kerepotan yang dialami oleh wali santri saat menjadi tempat Konsulat yang sekaligus merangkap menjadi dapur penyedia konsumsi , maka kami mengambil kebijakan berkaitan dengan perihal konsumsi, Insya Alloh kami akan memesan nasi box dan Alhamdulillah berkat pertolongan Allah tabaraka wata’ala kami telah negosiasi dengan pihak pengelola konsumsi dengan biaya satu box nasi lengkap dengan lauk ayam bakar, lalapan, juga sayurnya dijatuhi harga Rp. 10.000,-@ Box.

3.       Adapun bagi para wali/Orangtua santri yang hendak mendampingi putra-putrinya maka kami persilahkan dan Insya Alloh kami dari panitia akan menyambut dengan baik kehadiran bapak/ibu wali santri sekalian.

4.       Yang terakhir adalah perihal pembiayaan kaos Konsulat yang insya Alloh ini membantu mensyiarkan Pondok Pesantren pendidikan Islam Miftahussalam Banyumas khususnya di wilayah Kebumen dan Cilacap kepada masyarakat luas, sehingga diharapkan kegiatan ini nantinya juga berdampak positif khususnya pada perkembangan volume santri di tiap tahun ajaran baru. Adapun biaya pembuatan kaos, karena kita menginginkan kualitas yang baik dan dengan harga terjangkau, maka kami mengambil inisiatif untuk membuat kaos di Yogyakarta yang kebetulan telah menjadi partner kami dalam pembuatan kaos berkualitas dalam event-event lain di Miftahussalam, maka pembiayaan kaos tersebut sebesar Rp. 50.000,-.@Kaos.

5.       Informasi lebih lanjut bisa menghubungi Panitia di :
·         Kebumen pada Akhuna Syaiful Aziz        :  081391314819
·         Cilacap pada Akhuna Muh. Rifa’I Aziz    :   085647720531

             

Sabtu, 07 Agustus 2010

SEJARAH KEBUMEN

Nama Kebumen konon berasal dari kabumian yang berarti sebagai tempat tinggal Kyai Bumi setelah dijadikan daerah pelarian PangeranBumidirja atau Pangeran Mangkubumi dari Mataram pada 26 Juni 1677, saat berkuasanya Sunan Amangkurat I. Sebelumnya, daerah ini sempat tercatat dalam peta sejarah nasional sebagai salah satu tonggak patriotik dalam penyerbuan prajurit Mataram di zaman Sultan Agung ke benteng pertahanan Belanda di Batavia. Saat itu Kebumen masih bernama Panjer.

Salah seorang cicit Pangeran Senopati yaitu Bagus Bodronolo yang
dilahirkan di desa Karanglo, Panjer, atas permintaan Ki Suwarno,
utusan Mataram yang bertugas sebagai petugas pengadaan logistik,
berhasil mengumpulkan bahan pangan dari rakyat di daerah ini dengan
jalan membeli. Keberhasilan membuat lumbung padi yang besar artinya
bagi prajurit Mataram, sebagai penghargaan Sultan Agung, Ki Suwarno
kemudian diangkat menjadi Bupati Panjer, sedangkan Bagus Bodronolo
ikut dikirim ke Batavia sebagai prajurit pengawal pangan.

1 Januari 2003 atau ratusan tahun kemudian, predikat lumbung pangan
andalan di Jawa Tengah selatan memang belum lepas dari daerah ini,
meski sempat terganggu dengan parahnya bencana banjir pada tahun 2000
dan 2001 lalu. Paling tidak, kelebihan stok padi 100 sampai 150 ribu
ton setahunnya, mampu menjadikannya salah satu penopang stok pangan
di Kedu dan Banyumas.

Bagaimanakah gambaran tentang pencapaian kiprah pembangunan daerah
ini sampai akhir 2002, menurut Sekretaris Daerah (Sekda) Kebumen,
Suroso SH, barometernya pada berbagai kemajuan yang menonjol pada
sektor-sektor pelayanan dasar bagi masyarakat, yaitu pendidikan,
kesehatan serta pemukiman dan prasarana wilayah (kimpraswil).

"Arah pembangunan Kabupaten Kebumen di era otonomi daerah ini sudah
jelas, di antaranya dengan menitikberatkan terlebih dahulu pada
pembangunan ketiga sektor itu," ujarnya.

Sejarah Kabupaten Cilacap

1. Zaman Kerajaan Jawa

Penelusuran sejarah zaman kerajaan Jawa diawali sejak zaman Kerajaan Mataram Hindu sampai dengan Kerajaan Surakarta. Pada akhir zaman Kerajaan Majapahit (1294-1478) daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap terbagi dalam wilayah-wilayah Kerajaan Majapahit, Adipati Pasir Luhur dan Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang wilayahnya membentang dari timur ke arah barat :

- Wilayah Ki Gede Ayah dan wilayah Ki Ageng Donan dibawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.

- Wilayah Kerajaan Nusakambangan dan wilayah Adipati Pasir Luhur

- Wilayah Kerajaan Pakuan Pajajaran.

Menurut Husein Djayadiningrat, Kerajaan Hindu Pakuan Pajajaran setelah diserang oleh kerjaan Islam banten dan Cirebon jatuh pada tahun 1579, sehingga bagian timur Kerajaan Pakuan Pajajaran diserahkan kepada Kerajaan Cirebon. Oleh karena itu seluruh wilayah cikal-bakal Kabupaten Cilacap disebelah timur dibawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang dan sebelah barat diserahkan kepada Kerajaan Cirebon.

Kerajaan Pajang diganti dengan Kerajaan Mataram Islam yang didirikan oleh Panembahan Senopatipada tahun 1587-1755, maka daerah cikal bakal Kabupaten Cilacap yang semula di bawah kekuasaan Kerajaan Islam Pajang diserahkan kepada Kerajaan Mataram .

Pada tahun 1595 Kerajaan Mataram mengadakan ekspansi ke Kabupaten Galuh yang berada di wilayah Kerajaan Cirebon.

Menurut catatan harian Kompeni Belanda di Benteng Batavia, tanggal 21 Pebruari 1682 diterima surat yang berisi terjemahan perjalanan darat dari Citarum, sebelah utara Karawang ke Bagelen. Nama-nama yang dilalui dalam daerah cikal-bakal Kabupaten Cilacap adalah Dayeuhluhur dan Limbangan.

2. Zaman Penjajahan Belanda

Pembentukan Onder Afdeling Cilacap (dua bulan setelah Residen Launy bertugas) dengan besluit Gubernur Jenderal D.De Erens tanggal 17 Juli 1839 Nomor 1, memutuskan :

"Demi kepentingan pelaksanaan pemerintahan daerah yang lebih rapi di kawasan selatan Banyumas dan peningkatan pembangunan pe,abuhan Cilacap, maka sambil menunggu usul organisasi distrik-distrik bagian selatan yang akan menjadi bagiannya, satu dari tiga Asisten Resident di Karesidenan ini akan berkedudukan di Cilacap".

Karena daerah Banyumas Selatan dianggap terlalu luas untuk dipertahankan oleh Bupati Purwokerto dan Bupati Banyumas maka dengan Besluit tanggal 27 Juni 1841 Nomor 10 ditetapkan :"Patenschap" Dayeuhluhur dipisahkan dari Kabupaten Banyumas dan dijadikan satu afdeling tersendiri yaitu : afdeling Cilacap dengan ibu kota Cilacap, yang menjadi tempat kedudukan kepala Bestuur Eropa Asisten Residen dan Kepala Bestuur Pribumi Rangga atau Onder Regent. Dengan demikian Pemerintah Pribumi dinamakan Onder Regentschap setaraf dengan Patih Kepala Daerah Dayeuhluhur.

Bagaimanapun pembentukan afdeling memenuhi keinginan Bupati Purwokerto dan Banyumas yang sudah lama ingin mengurangi daerah kekuasaan masing-masing dengan Patenschap Dayeuhluhur dan Distrik Adiraja.

Adapun batas Distrik Adiraja yang bersama pattenschap Dayeuhluhur membentuk Onder Regentschap Cilacap menurut rencana Residen Banyumas De Sturier tertanggal 31 Maret 1831 adalah sebagai berikut :

Dari muara Sungai Serayu ke hulu menuju titik tengah ketinggian Gunung Prenteng. Dari sana menuju puncak, turun ke arah tenggara pegunungan Kendeng, menuju puncak Gunung Gumelem (Igir Melayat). dari sana ke arah selatan mengikuti batas wilayah Karesidenan Banyumas menuju ke laut. Dari sana kearah barat sepanjang pantai menuju muara Sungai Serayu. dari batas-batas Distrik Adiraja dapat diketahui bahwa Distrik Adiraja sebagai cikal-bakal eks Kawedanan Kroya lebih besar dari pada eks. Kawedanan Kroya , karena waktu itu belum terdapat Distrik Kalireja, yang dibentuk dari sub bagian Distrik Adiraja dan sebagai Distrik Banyumas. Sehingga luas kawasan Onder Regentschap Cilacap masih lebih besar dari luas Kabupaten Cilacap sekarang.

Pada masa residen Banyumas ke-9 Van de Moore mengajukan usul Pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 3 Oktober 1855 yang ditandatangani Gubernur Jenderal Duijmaer Van Tuist, kepada Menteri Kolonial Kerajaan Belanda dalam Kabinet Sreserpt pada tanggal 29 Desember 1855 Nomor 86, dan surat rahasia Menteri Kolonial tanggal 5 Januari 1856 Nomor 7/A disampaikan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Usul pembentukan Kabupaten Cilacap menurut Menteri Kolonial bermakna dua yaitu permohonan persetujuan pembentukan Kabupaten Cilacap dan organisasi bestir pribumi dan pengeluaran anggaran lebih dari F.5.220 per tahun yang keduanya memerlukan persetujuan Raja Belanda,setelah menerima surat rahasia Menteri Kolonial Pemerintah Hindia Belanda dengan besluit Gubernur Jenderal tanggal 21 Maret 1856 Nomor 21 antara lain menetapkan Onder Regentschap Cilacap ditingkatkan menjadi Regentschap (Kabupaten Cilacap).

Daftar Nama Bupati Cilacap :

  1. R. Tumenggung Tjakra werdana II (1858-1873)

  2. R. Tumenggung Tjakra Werdana III (1873-1875)

  3. R. Tumenggung Tjakra Werdana IV (1875-1881)

  4. R.M Adipati Tjakrawerdaya (1882-1927)

  5. R.M Adipati Arya Tjakra Sewaya (1927-1950)

  6. Raden Mas Soetedjo (1950-1952)

  7. R. Witono (1952-1954)

  8. Raden Mas Kodri (1954-1958)

  9. D.A Santoso (1958-1965)

10. Hadi Soetomo (1965-1968)

11. HS. Kartabrata (1968-1974)

12. H. RYK. Moekmin (1974-1979)

13. Poedjono Pranyoto (1979-1987)

14. H. Mohamad Supardi (1987-1997)

15. H. Herry Tabri Karta, SH (1997-2002)

16. H. Probo Yulastoro, S.Sos, MM, M.Si (2002- sekarang)